Minggu, 14 Desember 2008

Manusia Membutuhkan Cobaan agar tetap Sehat.

Manusia Membutuhkan Cobaan agar tetap Sehat.

Umumnya kita akan mengeluh kalau mendapatkan kesulitan, cobaan atau musibah. Apalagi kalau cobaan itu terasa sangat berat, kalau tidak kuat bisa-bisa malah mencari jalan keluar ke arah yang salah yang justru semakin menjerumuskan ke dalam kesulitan yang lebih besar.

Pada saat mengalaminya mungkin kita akan bertanya, kenapa kita diberi cobaan yang sangat berat yang kita tidak sanggup memikulnya. Betapa tidak adilnya Yang Maha Kuasa, timbul rasa ingin menyalahkan Sang

Pemilik alam semesta atau menyalahkan orang lain. Rasa tersebut muncul walaupun kita tahu bahwa untuk naik kelas di sekolah harus mengikuti porsedur yang namanya ujian, dalam pekerjaan di kantorpun untuk naik jenjang karir wajib ikut assessment test. Yang tidak mau ikut ujian atau assessment test berarti tidak punya kesempatan naik jabatan, maka berebut-rebutlah orang untuk bisa segera mengikuti assessment test. Analogi ini mungkin sudah sering terpikir oleh kita.

Namun ada satu lagi analogi yang ingin disampaikan di sini dalam memahami cobaan. Tubuh kita membutuhkan olahraga agar tetap sehat, walaupun saat olahraga akan terasa sangat capek. Jika otot kita tidak digunakan, misalkan kita tidur terus tidak pernah berjalan, maka otot kaki akan mengecil. Semakin tidak dipakai otot tersebut akan semakin lemah dan tidak bisa menjalankan fungsinya.

Demikian juga halnya dengan mental. Semakin hari kita akan menghadapi masalah yang semakin kompleks seiring dengan pertambahan umur dan peningkatan karir. Jika mental tidak disiapkan, maka akan gagal dalam menghadapi persoalan2 yang semakin kompleks tersebut, padahal kita tidak bisa menahan laju umur. Jadi, siap tidak siap kita harus siap.

Disinilah Allah menjalankan mekanisme yang bernama cobaan, agar mental / spiritual manusia siap memikul tanggung jawab sesuai dengan umur manusia. Agar mentalnya tetap sehat. Jiwa yang sehat akan menghasilkan tubuh yang sehat. Jika manusia tidak mau menerima cobaan maka sama saja dengan dia tidak mau melanjutkan umurnya, alias berhenti dari kehidupan.

Jadi kalau ada yang ingin jadi Presiden sama saja dengan dia mengatakan sudah siap menghadapi cobaan dan musibah besar dengan sikap yang benar, karena tanggungjawabnya sangat besar.

Persoalannya adalah bagaimana bersikap dalam menghadapi cobaan tersebut agar lulus dan naik tingkat. Untuk menjawab ini, diperlukan belief (keyakinan) dan ilmu. Tanpa kedua hal tersebut tidak mungkin bisa bersikap dengan benar dalam menghadapi cobaan.

Ihdinas shirothal mustaqim.......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar